Si Pujo
Birunya air danau dan pemandangan
hijau yang terhampar di sekelilingya terusik dengan seseorang yang memecahkan
keheningan di siang bolong itu. Ya teriakan itu memecahkan telinga orang-orang
yang sedang asyik memancing, berenang dan yang hanya sekedar bercengkrama dengan
teman-temannya di pinggir danau. “Aku
sudah serahkan uang itu ke bu Andini!” teriak Pujo. Tak kalah sengitnya Nino
membalas teriakan Pujo,”Jangan kau fitnah dia!” Nino melanjutkan, “Kami telah
bertemu dan menanyakan kebenarannya.” Pujo masih terus berkelit dan
meninggalkan teman-temannya yang tidak percaya dengan perbuatannya. Mumung
geleng-geleng kepala dan tidak percaya terhadap apa yang pujo lakukan, “Orang
yang selama ini membantu dan kadang memberinya uang ketika dia butuh, teganya
ia fitnah.” Dan Dion terlihat mengepalkan jari jemarinya terlihat sangat geram,
“aku ingin bogem saja dia!” teriaknya.
Ke esokan harinya bu Andini
ketika sedang menyusuri lorong gedung bersama bu Kiki berpapasan dengan pak Soleh,
seseorang yang telah memberikan informasi kepada Nino dan kawan-kawan tentang
uang yang diminta dan diberikannya ke pada Pujo selama ini. “Maaf pak Soleh,
saya tidak mengetahui atas tindakan Pujo selama ini terhadapa bapak. Sekali
lagi atas nama pribadi dan instansi saya minta maaf.” “Ya bu”, jawab pak soleh.
Pikiran bu Andini terus menerawang dan memutar otaknya, bagaimana caranya
menemukan kebenaran. Akhirnya bu Andini teringat kalimat terakhir yang pak
Soleh katakana bahwa Pujo telah mengirim pesan lewat WhatsApp dan meminta uang
kembali sehari sebelumnya. “Oh ya. Aku coba minta no handphone Pujo yang baru,
kok dia punya WhatsApp ya, padahal selama ini haya HP jadul dan tidak memakai
WhatsApp yang dia miliki” guman bu Andini. Bu Andini berlari keluar untuk
menemui pak Soleh, sayang pak Soleh sedang keluar. Kemudian bu Andini menemui
istri pak Soleh yang kebetulan dia selalu ikut ke tempat suaminya bekerja. “Assalamualaikum” bu Andini mengetuk pintu,
keluarlah seorang gadis kecil manis putri pak Soleh. “Ada ibunya?” bu Andini melanjutkan
keingin tahuannya. “Ibu sedang ke gedung atas bu,” jawabnya. Gadis kecil itu
berlari menjemput ibunya dan kembali bersamanya. “Maaf bu, bolehkan saya minta
no pak Soleh? Ada hal yang penting yang ingin saya bicarakan.“ Istri pak Soleh
lalu memberikan no pak Soleh ke bu Andini, tak lupa bu Andini mengucapkan
terima kasih. Langsung saja bu Andini mengirim pesan ke pak soleh dan meminta
no baru Pujo.
Jam dinding berputar terasa
lambat sekali, sesekali bu Andini melirik handphone menunggu jawaban pak Soleh.
Satu jam kemudian, pak Soleh menjawab pesan yang dikirim bu Andini. Sayang pak
Soleh baru bisa kembali sore hari dan itu menghancurkan rencana bu Andini yang
ingin menjebak Pujo. Ide berikutnya muncul seketika, “saya harus minta bantuan
orang yang ditakuti si Pujo.” Pikir bu Andini. “Assalamualaikum pak Roy, bisa
kita bertemu hari ini?” Pak Roy,” Waalaikumsalam ibu, siaaap!” setelah beberapa
jam pak Roy datang tepat pada jam yang disepakati meskipun dalam perjalanan
hujan turun cukup lebat. Bu Andini menceritakan apa yang terjadi pada pak Roy
dan lebih terkejutnya pak Roy telah memiliki no Pujo yang menggunakan WhatsApp
sudah lama serta pujo yang memberikannya. Kontan saja pak Roy menelpon Pujo,
padahal seorang teman telah menghubunginya berkali-kali tidak aktif, mungkin di
menggunakan nomor yang berbeda.
Singkat cerita pak Roy janjian
dengan Pujo untuk bertemu di rumah pak Roy ba’da Magrib. Namun Pujo datang
lebih awal yaitu sore hari dimana pak Roy masih ada kesibukan diluar. Mungkin
Pujo tidak ingin bertemu langsung dengan pak Roy, memutuskan membawa
barang-barang yang disepakati lebih cepat. Pujo menelpon pak Roy.”Bang, saya
sudah di depan rumah.” “Loh kan kita janjian nanti malam, kok sudah datang?”
ujar pak Roy. “Tolong titipkan barang-barang ke istri saya” lanjut pak Roy. Pujo,”siaap bang!’ Untung
saja pak Roy merekam semua percakapan via telephone dengan Pujo dan
mengirimkannya ke bu Andini dan juga atasan bu Andini. Lega sudah yang
dirasakan bu Andini dengan hasil rekaman itu, meskipun tanpa bukti itu, ia
yakin orang-orang yang disekelilingnya percaya dengannya.
Tangerang, 11 November 2020
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKeren Bu Cerpenis ini mah
BalasHapusLaff bun
BalasHapusLanjutkan Bun, semangaat...
BalasHapus