Selasa, 10 November 2020

Si Pujo

                                                                        Si Pujo

Birunya air danau dan pemandangan hijau yang terhampar di sekelilingya terusik dengan seseorang yang memecahkan keheningan di siang bolong itu. Ya teriakan itu memecahkan telinga orang-orang yang sedang asyik memancing, berenang dan yang hanya sekedar bercengkrama dengan teman-temannya di pinggir danau.  “Aku sudah serahkan uang itu ke bu Andini!” teriak Pujo. Tak kalah sengitnya Nino membalas teriakan Pujo,”Jangan kau fitnah dia!” Nino melanjutkan, “Kami telah bertemu dan menanyakan kebenarannya.” Pujo masih terus berkelit dan meninggalkan teman-temannya yang tidak percaya dengan perbuatannya. Mumung geleng-geleng kepala dan tidak percaya terhadap apa yang pujo lakukan, “Orang yang selama ini membantu dan kadang memberinya uang ketika dia butuh, teganya ia fitnah.” Dan Dion terlihat mengepalkan jari jemarinya terlihat sangat geram, “aku ingin bogem saja dia!” teriaknya.

Ke esokan harinya bu Andini ketika sedang menyusuri lorong gedung bersama bu Kiki berpapasan dengan pak Soleh, seseorang yang telah memberikan informasi kepada Nino dan kawan-kawan tentang uang yang diminta dan diberikannya ke pada Pujo selama ini. “Maaf pak Soleh, saya tidak mengetahui atas tindakan Pujo selama ini terhadapa bapak. Sekali lagi atas nama pribadi dan instansi saya minta maaf.” “Ya bu”, jawab pak soleh. Pikiran bu Andini terus menerawang dan memutar otaknya, bagaimana caranya menemukan kebenaran. Akhirnya bu Andini teringat kalimat terakhir yang pak Soleh katakana bahwa Pujo telah mengirim pesan lewat WhatsApp dan meminta uang kembali sehari sebelumnya. “Oh ya. Aku coba minta no handphone Pujo yang baru, kok dia punya WhatsApp ya, padahal selama ini haya HP jadul dan tidak memakai WhatsApp yang dia miliki” guman bu Andini. Bu Andini berlari keluar untuk menemui pak Soleh, sayang pak Soleh sedang keluar. Kemudian bu Andini menemui istri pak Soleh yang kebetulan dia selalu ikut ke tempat suaminya bekerja.  “Assalamualaikum” bu Andini mengetuk pintu, keluarlah seorang gadis kecil manis putri pak Soleh. “Ada ibunya?” bu Andini melanjutkan keingin tahuannya. “Ibu sedang ke gedung atas bu,” jawabnya. Gadis kecil itu berlari menjemput ibunya dan kembali bersamanya. “Maaf bu, bolehkan saya minta no pak Soleh? Ada hal yang penting yang ingin saya bicarakan.“ Istri pak Soleh lalu memberikan no pak Soleh ke bu Andini, tak lupa bu Andini mengucapkan terima kasih. Langsung saja bu Andini mengirim pesan ke pak soleh dan meminta no baru Pujo.

Jam dinding berputar terasa lambat sekali, sesekali bu Andini melirik handphone menunggu jawaban pak Soleh. Satu jam kemudian, pak Soleh menjawab pesan yang dikirim bu Andini. Sayang pak Soleh baru bisa kembali sore hari dan itu menghancurkan rencana bu Andini yang ingin menjebak Pujo. Ide berikutnya muncul seketika, “saya harus minta bantuan orang yang ditakuti si Pujo.” Pikir bu Andini. “Assalamualaikum pak Roy, bisa kita bertemu hari ini?” Pak Roy,” Waalaikumsalam ibu, siaaap!” setelah beberapa jam pak Roy datang tepat pada jam yang disepakati meskipun dalam perjalanan hujan turun cukup lebat. Bu Andini menceritakan apa yang terjadi pada pak Roy dan lebih terkejutnya pak Roy telah memiliki no Pujo yang menggunakan WhatsApp sudah lama serta pujo yang memberikannya. Kontan saja pak Roy menelpon Pujo, padahal seorang teman telah menghubunginya berkali-kali tidak aktif, mungkin di menggunakan nomor yang berbeda.  

Singkat cerita pak Roy janjian dengan Pujo untuk bertemu di rumah pak Roy ba’da Magrib. Namun Pujo datang lebih awal yaitu sore hari dimana pak Roy masih ada kesibukan diluar. Mungkin Pujo tidak ingin bertemu langsung dengan pak Roy, memutuskan membawa barang-barang yang disepakati lebih cepat. Pujo menelpon pak Roy.”Bang, saya sudah di depan rumah.” “Loh kan kita janjian nanti malam, kok sudah datang?” ujar pak Roy. “Tolong titipkan barang-barang ke istri saya”  lanjut pak Roy. Pujo,”siaap bang!’ Untung saja pak Roy merekam semua percakapan via telephone dengan Pujo dan mengirimkannya ke bu Andini dan juga atasan bu Andini. Lega sudah yang dirasakan bu Andini dengan hasil rekaman itu, meskipun tanpa bukti itu, ia yakin orang-orang yang disekelilingnya percaya dengannya.

 

 

Tangerang, 11 November 2020

Sabtu, 07 November 2020

 

SILATURAHMI

 


Setiap akhir pekan seperti biasa, ketika suamiku libur sudah hampir setahun ini kami selalu menyempatkan untuk mengunjungi orang tuaku, dimana  aku dilahirkan dan besar di kota yg penuh kenangan.

 

Pagi itu udara terlihat mendung dan hembusan angin sejuk menerpa wajah halusku, ketika ku dorong pintu gerbang dengan perlahan agar tidak menimbulkan bunyi-bunyian yang akan mengganggu gendang telinga tetangga ku. Aku bergegas kedalam untuk mengambil tas beserta barang-barang yang akan kami bawa karena pekan ini kami akan bermalam di sana. Setelah ku yakin semua sudah siap, suamiku melajukan kendaraan kami menuju jalan yang biasa kami lalui.

 

Sesungguhnya di sela silaturahmi ke orang tua, ada undangan dari seorang teman ketika di SMP yang menikahkan keponakannya. Aku pikir tidak ada salahnya aku hadir untuk mendoakan dan menyempurnakan kebahagian pengantin, serta bercengkrama dengan beberapa teman SMP. Meskipun ditengah pandemi Covid-19 yang penting tetap menjaga protokol kesehatan. Di dalam ajaran yang ku yakini, bersilaturahmi itu akan memperpanjang usia, membawa rezeki dan banyak manfaat lain lagi yang kita dapatkan.

 

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih satu setengah jam, tibalah kami di rumah yang kini jauh berbeda ketika aku masih tinggali dua puluh lima tahun silam. Tidak ada lagi pohon jambu bangkok dan mangga yang sering ku panjat ketika buahnya ranum, tidak ada lagi daun-daun yang berserakan tertiup angin. Tidak ada lagi pohon pisang di samping rumah, yang ketika kami butuh daun tinggal memotongnya.

 

Tersentak aku teringat pesan dari temanku agar memberinya kabar sesampainya aku di sini. Ku ambil hp dan mulai ku rangkai kata di dalam WhatsApp group.

 

Dua jam kemudian seorang teman menjeputku, kemudian berkumpul di salah satu rumah teman yang tinggal  tidak jauh dengan tempat acara. Alangkah terkejutnya kami, ada anggota baru yang hadir.  Usut punya usut ternyata ada sepasangan pengantin yang belum genap sebulan. Bener kata pak ustad: "jodoh, rezeki dan maut tidak ada yang tahu." Ternyata teman ku berjodoh dengan kakak dari teman kami juga. Meskipun jodohnya datang setelah keduanya menjadi janda dan duda dan masing-masing telah memiliki buah hati.

 

Akhirnya setelah kami ke tempat pesta dan menikmati hidangan yang disajikan, kami menyempatkan mengunjungi keluarga barunya untuk bersilaturahmi ke  kediamannya. Dimana di sana tinggal juga mertuanya yang sudah senja. Sambutan ibu mertuanya sangat hangat, dan tak lupa mengingatkan kami untuk beribadah. Sungguh hari itu banyak pelajaran yang aku dapat.

 

Cilegon, diawal November 2020.